
money.id

Pos Berita - Dede, mahasiswa Departemen Pendidikan Kimia, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia, berhasil menciptakan kompor “Berbahan Bakar Air”.
“Saya melakukan penelitian,
mengurai dua unsur yang ada dalam air. Jadi yang diambil gas hidrogen saja, oksigennya
diendapkan,” ucapnya seperti dikutip Money.id, Selasa (10/5/16).
Dia
menciptakan zat khusus untuk pengurainya. Karena menurutnya air terdiri dari dua
unsur. Ketika zat ramuan Dede itu dicampur dengan air dengan sendirnya dua
unsur itu langsung terpisah. Jadi gas hidrogen itu yang diolah menjadi bahan
bakar.
“Zat kimia
untuk pengurai itu sangat mudah didapatkan dan ada di mana saja. Tinggal
dicampur dengan air langsung terpisah antara oksigen dan hidrogen,” tuturnya.
Namun Dede masih merahasiakan dari unsur apa saja zat pengurai itu dibuat.
Setelah
temuan itu dipastikan bisa digunakan dan diapliksikan untuk pengganti kompor
gas elpiji akhirnya Dede memberanikan untuk memasarkan di desa kelahirannya,
Kampung Kerajan, Desa Cihambulu, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa
Barat. Tidak Tanggung-tanggung dia langsung mendirikan perusahaan bernama CV
Energon Teknologi.
Di
kampungnya Dede memang termasuk salah satu pemuda yang sukses, karena bisa
duduk di bangku kuliah. Pasalnya, rata-rata pemuda seusianya hanya bisa sekolah
hingga SMP dan paling tinggi SMA. “Dari angkatan saya sekolah hanya
beberapa orang yang bisa meneruskan kuliah,” tegasnya.
Bagi warga
Desa Cihambulu, bisa duduk di bangku kuliah adalah sebuah prestasi sangat
membanggakan. Di desa itu, sekolah SMA saja tidak ada. Apabila ingin sekolah
SMA harus bersedia sekolah di luar kota. “Saya dulu sekolah di Purwakarta,”
ucap dia.
Berbekal itu
semua akhirnya Dede memberanikan diri untuk menggandeng kelompok Karang Taruna
yang ada di kampungnya. Dia memperagakan produk di balai desa dan meyakinkan
kompor bahan bakar air itu bisa digunakan dengan sangat aman dan bermanfaat
bagi masyarakat.
“Awalnya
memang sulit, tapi akhirnya 80 persen warga Desa Cihambulu mau menggunakan
produk ciptaan saya,” jelasnya.
Guna
memudahkan pelanggan, Dede juga membangun Saung Pengisian Bahan Bakar Hidrogen
(SPBH). Jadi warga yang sudah menggunakan produk buatannya bisa mengisi ulang
dengan mudah apabila sudah habis. Gas hidrogen yang diurai dari air itu dijual
Rp10 ribu per tabung dan bisa digunakan hingga tiga minggu. “Ini lebih irit
dari gas elpiji,” kata dia.
Memang,
warga yang ingin menggunakan kompor bahan bakar air itu harus membeli tabung
khusus dari stailess steel. Tidak bisa menggunakan tabung gas biasa. Harganya
memang cukup mahal, namun dengan kecerdasannya dalam berbisnis Dede memberikan
kredit kepada warga yang sudah niat menggunakan produk itu.
“Untuk
tabung dan kompor saya ada vendor dibuat di Bandung. Harganya sih lumayan,”
tutur Dede.
Namun, meski
harga tabung dan kompor tidak murah, usaha yang dilakukan Dede dianggap sangat
membantu warga Desa Cihambulu, karena ternyata akses masuk gas elpiji ke sana
sangat sulit. Pasalnya, jalan menuju ke desa itu sangat sulit.
“Itu juga
yang menjadi salah satu tekad saya ingin menciptakan gas berbahan bakar air
ini,” imbuhnya.
Karena
menurut Dede, apabila tidak ada gas warga di Desa Cihambulu harus harus memasak
menggunakan kayu bakar. Sedangkan untuk mencarinya sangat sulit karena harus
pergi ke hutan yang ada di sekitar sana.
Karena
kelangkaan gas di kampungnya itu, dari hasil menjual teknologi kompor berbahan
bakar air itu ratusan juta sudah didapatkan Dede. “Dari sejak didirikan dari
2015 hasilnya sudah lumayan lah,” ucapnya.
Segera Dipatenkan
Meski kompor berbahan bakar air itu sudah
banyak digunakan di Desa Cihambulu, tapi Dede belum berani memasarkannya secara
luas. Saat ini dia sedang menunggu keluarnya hak paten dari Kementerian Riset
Teknologi Dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti).
“Saya ingin
mematenkan dulu, baru akan merasa leluasa untuk memasarkannya,” ujarnya.
Dede
mengaku, saat ini dia bersama rekan-rekan pengusaha dari Wirausaha Muda Mandiri
terus berusaha supaya paten itu bisa cepat keluar. “Sayang sedang follow up
terus, tapi masih belum ada hasil,” keluhnya.
Dia
berharap, setelah hak paten untuk kompor berbahan bakar air itu keluar, dalam
waktu singkat produknya bisa dikenal dan dinikmati di seluruh penjuru negeri.
“Saya targetkan dua tahun bisa berkembang di Indonesia,” harap Dede.
Satu hal
yang membebaninya ketika produk itu dipasarkan secara luas sebelum dipatenkan
adalah ditiru oleh orang lain. Namun meski demikian Dede mengaku tidak takut
dengan para duplikator yang bisa saja ‘membunuhnya’ dalam permainan bisnis
teknologi itu.
“Kalau ada
yang meniru, saya sudah punya antisipasinya. Sudah menyiapkan teknologi lebih
canggih dari itu,” paparnya.
Apabila ada
yang memang nekat meniru teknologi dikembangkannya itu, Dede mengaku siap
menjadikan perusahaan tersebut sebagai sparing partner dalam bisnis berbasis
teknologi itu.
“Saya sudah menyiapkan banyak rencana untuk bidang ini. Posisi saya sebagai pelopor,” tegas dia. (Soq)
“Saya sudah menyiapkan banyak rencana untuk bidang ini. Posisi saya sebagai pelopor,” tegas dia. (Soq)


