Kamis, 12 Mei 2016



money.id

Pos Berita - Dede, mahasiswa  Departemen Pendidikan Kimia, Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FPMIPA) Universitas Pendidikan Indonesia, berhasil menciptakan kompor “Berbahan Bakar Air”.

            “Saya melakukan penelitian, mengurai dua unsur yang ada dalam air. Jadi yang diambil gas hidrogen saja, oksigennya diendapkan,” ucapnya seperti dikutip Money.id, Selasa (10/5/16).
            Dia menciptakan zat khusus untuk pengurainya. Karena menurutnya air terdiri dari dua unsur. Ketika zat ramuan Dede itu dicampur dengan air dengan sendirnya dua unsur itu langsung terpisah. Jadi gas hidrogen itu yang diolah menjadi bahan bakar.
“Zat kimia untuk pengurai itu sangat mudah didapatkan dan ada di mana saja. Tinggal dicampur dengan air langsung terpisah antara oksigen dan hidrogen,” tuturnya. Namun Dede masih merahasiakan dari unsur apa saja zat pengurai itu dibuat.
Setelah temuan itu dipastikan bisa digunakan dan diapliksikan untuk pengganti kompor gas elpiji akhirnya Dede memberanikan untuk memasarkan di desa kelahirannya, Kampung Kerajan, Desa Cihambulu, Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Tidak Tanggung-tanggung dia langsung mendirikan perusahaan bernama CV Energon Teknologi.
Di kampungnya Dede memang termasuk salah satu pemuda yang sukses, karena bisa duduk di bangku kuliah. Pasalnya, rata-rata pemuda seusianya hanya bisa sekolah hingga SMP dan paling tinggi SMA. “Dari angkatan saya sekolah hanya beberapa orang yang bisa meneruskan kuliah,” tegasnya.
Bagi warga Desa Cihambulu, bisa duduk di bangku kuliah adalah sebuah prestasi sangat membanggakan. Di desa itu, sekolah SMA saja tidak ada. Apabila ingin sekolah SMA harus bersedia sekolah di luar kota. “Saya dulu sekolah di Purwakarta,” ucap dia.
Berbekal itu semua akhirnya Dede memberanikan diri untuk menggandeng kelompok Karang Taruna yang ada di kampungnya. Dia memperagakan produk di balai desa dan meyakinkan kompor bahan bakar air itu bisa digunakan dengan sangat aman dan bermanfaat bagi masyarakat.
“Awalnya memang sulit, tapi akhirnya 80 persen warga Desa Cihambulu mau menggunakan produk ciptaan saya,” jelasnya.
Guna memudahkan pelanggan, Dede juga membangun Saung Pengisian Bahan Bakar Hidrogen (SPBH). Jadi warga yang sudah menggunakan produk buatannya bisa mengisi ulang dengan mudah apabila sudah habis. Gas hidrogen yang diurai dari air itu dijual Rp10 ribu per tabung dan bisa digunakan hingga tiga minggu. “Ini lebih irit dari gas elpiji,” kata dia.
Memang, warga yang ingin menggunakan kompor bahan bakar air itu harus membeli tabung khusus dari stailess steel. Tidak bisa menggunakan tabung gas biasa. Harganya memang cukup mahal, namun dengan kecerdasannya dalam berbisnis Dede memberikan kredit kepada warga yang sudah niat menggunakan produk itu.
“Untuk tabung dan kompor saya ada vendor dibuat di Bandung. Harganya sih lumayan,” tutur Dede.
Namun, meski harga tabung dan kompor tidak murah, usaha yang dilakukan Dede dianggap sangat membantu warga Desa Cihambulu, karena ternyata akses masuk gas elpiji ke sana sangat sulit. Pasalnya, jalan menuju ke desa itu sangat sulit.
“Itu juga yang menjadi salah satu tekad saya ingin menciptakan gas berbahan bakar air ini,” imbuhnya.
Karena menurut Dede, apabila tidak ada gas warga di Desa Cihambulu harus harus memasak menggunakan kayu bakar. Sedangkan untuk mencarinya sangat sulit karena harus pergi ke hutan yang ada di sekitar sana.
Karena kelangkaan gas di kampungnya itu, dari hasil menjual teknologi kompor berbahan bakar air itu ratusan juta sudah didapatkan Dede. “Dari sejak didirikan dari 2015 hasilnya sudah lumayan lah,” ucapnya.
Segera Dipatenkan
Meski kompor berbahan bakar air itu sudah banyak digunakan di Desa Cihambulu, tapi Dede belum berani memasarkannya secara luas. Saat ini dia sedang menunggu keluarnya hak paten dari Kementerian Riset Teknologi Dan Pendidikan Tinggi (Ristek Dikti).
“Saya ingin mematenkan dulu, baru akan merasa leluasa untuk memasarkannya,” ujarnya.
Dede mengaku, saat ini dia bersama rekan-rekan pengusaha dari Wirausaha Muda Mandiri terus berusaha supaya paten itu bisa cepat keluar. “Sayang sedang follow up terus, tapi masih belum ada hasil,” keluhnya.
Dia berharap, setelah hak paten untuk kompor berbahan bakar air itu keluar, dalam waktu singkat produknya bisa dikenal dan dinikmati di seluruh penjuru negeri. “Saya targetkan dua tahun bisa berkembang di Indonesia,” harap Dede.
Satu hal yang membebaninya ketika produk itu dipasarkan secara luas sebelum dipatenkan adalah ditiru oleh orang lain. Namun meski demikian Dede mengaku tidak takut dengan para duplikator yang bisa saja ‘membunuhnya’ dalam permainan bisnis teknologi itu.
“Kalau ada yang meniru, saya sudah punya antisipasinya. Sudah menyiapkan teknologi lebih canggih dari itu,” paparnya.
Apabila ada yang memang nekat meniru teknologi dikembangkannya itu, Dede mengaku siap menjadikan perusahaan tersebut sebagai sparing partner dalam bisnis berbasis teknologi itu.
“Saya sudah menyiapkan banyak rencana untuk bidang ini. Posisi saya sebagai pelopor,” tegas dia. (Soq)

 


 


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner