Sabtu, 30 April 2016



 
Seorang buruh korban PHK melakukan aksi teatrikal saat peringatan Hari Buruh sedunia (May Day) di Semarang. TEMPO/Budi Purwanto


Pos Berita, Jakarta –Di Indonesia, peringatan Hari Buruh Internasional selalu diidentikkan dengan kegiatan-kegiatan negatif seperti aksi unjuk rasa buruh, kerusuhan dan lain sebagainya. 

Pada dasarnya pekerja tidak dilarang untuk melaksanakan aksi unjuk rasa pada May Day karena Indonesia merupakan negara yang menganut asas demokrasi, asalkan tidak mengganggu kepentingan orang banyak. 

Namun, para pekerja/buruh di Indonesia banyak yang salah tidak memahami asas demokrasi ini sehingga aksi unjuk rasa yang dilakukan memperingati Hari Buruh Internasional cenderung menimbulkan kerusuhan dan hal negatif lain.
Di Bekasi, sejumlah buruh lebih memilih untuk melakukan hal-hal positif untuk memperingati Hari Buruh. Mereka menggelar do’a dan dzikir bersama. 

"Ada sebagian yang akan memperingati may day di Jakarta, tetapi sebagian lainnya memperingati di Bekasi dengan menggelar doa dan dzikir," ujar Kapores Bekasi Kabupaten Kombes Awal Caherudin, seperti dikutip dari detikcom, Sabtu (30/4/2016).

Kegiatan doa dan dzikir itu akan digelar di Masjid Baitul Mustofa, kawasan MM 2100 dengan menghadirkan H Rhoma Irama. Diperkirakan massa yang akan menghadiri kegiatan tersebut yakni 3 ribu orang.

"Kemudian kegiatan tersebut juga akan dimeriahkan dengan pemberian door prize berupa motor, televisi dan kulkas serta peralatan rumah tangga lainnya," imbuhnya.

Terkait massa yang akan berangkat ke Jakarta, Polres Bekasi Kabupaten menyiapkan kekuatan 1.738 personel gabungan (termasuk 6 SSK Brimob back up Polda Metro) untuk mengamankan dan mengawal kegiatan tersebut.
Terpisah, di Cirebon, untuk memperingati Hari Buruh Kepolisian Resor Cirebon menggelar acara mancing bersama untuk buruh. Namun polisi tetap melakukan pengamanan di sejumlah titik strategis.

"Ada sekitar 300 buruh yang akan ikut memancing esok," kata Kepala Kepolisian Resor Cirebon Kota, AKBP Eko Sulistyo Basuki, seperti dikutip dari tempo.co Sabtu 30 April 2016.

Memperingati Hari Buruh, tidak harus selalu berdemo. Ada cara-cara kreatif dan positif lainnya. 

Salah satu penyebab para pekerja lebih memilih untuk menghabiskan waktu libur pada 1 Mei dengan melakukan aksi unjuk rasa adalah minimnya pemahaman mengenai Hari Buruh Internasional.

Padahal Hari Buruh Internasional merupakan perayaan keberhasilan ekonomi dan sosial dari kalangan pekerja oleh karena itu perayaan Hari Buruh Internasional seharusnya tidak dilakukan dengan aksi-aksi demonstrasi yang disertai dengan kerusuhan.

Di beberapa negara dengan tingkat pendidikan pekerja yang tinggi, seperti Amerika, Inggris dan Australia, kecenderungan memperingati May Day dengan aksi unjuk rasa telah lama bergeser ke kegiatan-kegiatan yang lebih positif. Para pekerja di negara tersebut lebih memilih untuk menghabiskan waktu bersama dengan keluarganya.

Minimnya tingkat pemahaman pekerja di Indonesia mengenai Hari Buruh Internasional semakin diperparah dengan waktu libur yang hanya satu hari saja dan tidak disediakannya kegiatan-kegiatan positif bagi para pekerja.

"Karena yang terpenting itu bagaimana supaya kesejahteraan buruh meningkat," kata Oman, salah satu buruh pabrik di Cirebon. (Soq)


Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Terbaru

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner