![]() |
| sumber gambar |
Demokrasi adalah bentuk atau
mekanisme sistem pemerintahan suatu negara sebagai upaya mewujudkan kedaulatan
rakyat (kekuasaan warga negara) atas negara untuk dijalankan oleh pemerintah
negara tersebut. Konsep demokrasi menjadi sebuah kata kunci tersendiri dalam
bidang ilmu politik. Hal ini menjadi wajar, sebab demokrasi saat ini
disebut-sebut sebagai indikator perkembangan politik suatu negara.
Menurut sebuah teori, demokrasi
bertujuan menghasilkan demokrasi yang mengacu pada ciri–ciri sebagai berikut:
Pertama, proses yang tak pernah selesai. Kedua, bersifat evolusioner. Ketiga,
perubahan bersifat damai. Keempat, berjalan melalui cara musyawarah.
Jadi dengan demikian, secara
otomatis budaya demokrasi dalam masyarakat akan terbentuk bilamana nilai–nilai
demokrasi itu sudah berkembang luas, merata, dihayati, dan dijalankan sebagai
sebuah keluhuran sikap dan perilaku hidup. Karena pada hakikatnya, budaya
demokrasi inilah yang akan mengembangkan nilai–nilai demokrasi itu sendiri.
Memasyarakatkan Demokrasi
Untuk memasyarakatkan demokrasi,
kita perlu apa yang namanya pendidikan demokrasi dalam arti sebagai upaya
sistematis yang dilakukan Negara dan masyarakat untuk memfasilitasi individu
warga negaranya agar memahami, menghayati, megamalkan, dan mengembangkan
konsep, prinsip dan nilai demokrasi sesuai dengan status dan perannya dalam
masyarakat (Winata Putra, 2006)
Demokrasi memang tidak diwarisi,
tetapi ditangkap dan dicerna melalui proses belajar. Oleh karena itu, untuk memahaminya
diperlukan suatu proses pendidikan demokrasi. Pendidikan demokrasi dalam
berbagai konteks, dalam hal ini untuk pendidikan formal (disekolah dan
perguruan tinggi), non formal (pendidikan diluar sekolah dan informal
(pergaulan dirumah dan masyarakat kultural untuk membangun cita–cita, nilai,
konsep, prinsip, sikap, dan keterampilan demokrasi dalam berbagai konteks.
System pemerintahan demokrasi
sebanyak dicita-citakan oleh berbagai Negara. Namun upaya untuk menuju
kehidupan demokrasi yang ideal tidaklah mudah. Proses mengimplementasikan
demokrasi inilah sebagai system politik dalam kehidupan bernegara. Dalam
hubungannya dengan implementasi ke dalam system pemerintahan, demokrasi banyak
melahirkan system yang bermacam-macam dalam demokrasi.
Joseph V. Femia mengajukan tiga
poin dasar dalam tuntutan pembangunan demokrasi yang harus dilakukan secara
hati-hati. Pertama, kondisi pervesity, yakni sejauh mana demokrasi yang
diperjuangkan mampu menumbuhkan benih kesejahteraan. Jangan-jangan yang terjadi
justru kemiskinan dan keterbelakangan. Kedua, kondisi futility, sejauhmana
demokrasi itu memiliki relevansi dengan pembangunan material sosial. Yakni,
menciptakan kesadaran kritis yang memelopori penciptaaan identitas dasar
politik warga negara. Ketiga, faktor jeopardy, yakni bahaya yang tercipta
ketika demokrasi diterapkan; memicu gangguan bagi stabilitas spiritual dan
moralitas publik.
Jika ketiga hal di atas ada
dalam praktik demokrasi di sebuah negara, maka hanya ada dua yang berlaku.
Yakni, negara itu dalam bahaya demokrasi dan atau sebaliknya demokrasi di
negara itulah yang dalam bahaya.
Mewujudkan Demokrasi
Delapan belas tahun berjalan
setelah Reformasi, yang terjadi sampai hari ini adalah semakin tidak
kooperatifnya demokrasi kita akibat dari kecenderungan birokrat yang tidak bisa
menyingkronkan antara wilayah publik dan arena politik. Artinya, mekanisme
komunikasi politik, logika sehat, dan norma keabsahan tak lagi banyak
dipedulikan para pengambil kebijakan. Maka, proses politik hanya merupakan
cerminan dari arena politik para bandit penggerus keuntungan dari negara.
Oleh karena itu, kita patut
mengoreksi dan mengawal proses demokrasi agar tidak tertelikung oleh
kepentingan politik pragmatis. Meminjam istilah Fadjroel Rachman, tahap pertama
revolusi demokrasi adalah saat tumbangnya kekuatan Orde Baru oleh kekuatan
progresif mahasiswa. Tahap revolusi kedua merupakan penentu konsolidasi politik
kekuasaan ke dalam agenda praksis pemerintahan.
Dan sekarang, kita sudah berada
pada revolusi tahap ketiga, yakni pada pelaksanaan demokrasi yang sehat. Ya
meskipun dengan berat hati, kita harus mengamini bahwa sampai hari ini,
meminjam istilah Meuthia Ganie-Rochman dalam opininya di Kompas 6 Juli 2013,
“Demokrasi Kita Masih Penuh Lubang Hitam”. Yang mana, borok yang ada dalam
demokrasi kita hari ini haruslah disikapi secara serius untuk segera dibenahi,
dalam upaya mewujudkan demokrasi sebagai kesatuan utuh dalam kehidupan
masyarakat bernegara.
Salah satu bentuk dari
keseriusan untuk membenahi demokrasi terutama adalah dalam konteks
institusionalisasi kepemimpinan nasional. Pertama, perlu disiapkannya strategi
politik akomodatif terhadap munculnya alternatif kepemimpinan dalam setiap
momentum pemilu ataupun pemilukada untuk mengganti wajah-wajah politisi lama
yang terbebani dengan sejarah silam.
Sebab kita tidak ingin keluhuran
pemilu nasional dan pemilukada akan terus gagal menunjukkan kualitasnya karena
pemain-pemain politiknya hasil political laundering dari sisa-sisa elit lama.
Yang mana mereka adalah hasil reinkarnasi karena diuntungkan efek modernisasi
strategi pencitraan dan penguasaan media komunikasi politik secara masif.
Kedua, partai politik harus konsisten menghadirkan sistem internal partai yang
akomodatif terhadap kepemimpinan muda (main political leadhership) untuk
menjamin berjalannya sirkulasi kepemimpinan nasional, regional, dan local
secara teratur.
Kita memang sudah berada di
panggung demokrasi terbuka dalam kurun 18 tahun berjalan. Namun, kita dituntut
pula untuk terus menerus melakukan resolusi dan pembenahan yang serius terkait
karakter ideologi demokrasi. Tersebab, sebagaimana disebutkan di awal tulisan
ini, bahwa demokrasi adalah proses yang tak pernah selesai, bersifat
evolusioner, perubahan bersifat damai, serta berjalan melalui cara musyawarah.
Maka dari itu, mengelola
sirkulasi kepemimpinan yang prospektif dan sesuai dengan kebutuhan demokrasi
adalah sebuah keharusan dan kewajiban yang tidak boleh mandeg pada satu titik,
apalagi berhenti pada sebuah rimba kepentingan sempit.
Oleh: H.B. Mohammad*
Aktivis Demokrasi INDOP Institute Madura
Aktivis Demokrasi INDOP Institute Madura



