Kendal - Menteri
Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT), Marwan
Jafar Mengatakan, pesantren adalah bagian integral dari Bangsa Indonesia dalam
memperjuangkan, mendirikan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI).
"Maka,
penetapan Hari Santri Nasional adalahpengakuan sekaligus penghargaan terhadap
eksistensi, loyalitas, konsistensi, perjuangan dan pengabdian kalangan
Pesantren dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara selama ini,”
ujarnya saat menghadiri Haflah Akhirussanah Pondok Pesantren AlFadllu Wal
Fadlilah Kendal, Kamis (19/5), malam.
Sebagai Menteri
yang memiliki kaitan erat dengan pesantren, Menteri Marwan juga mengucapkan
terimakasih kepada Presiden RI, Joko Widodo yang telah menetapkan hari santri
nasional.
“Sebagai rasa
syukur dan penghargaan kita, marilah hal itu kita wujudkan dalam bentuk
dukungan dan sokongan kita terhadap Pemerintahan Jokowi-JK dalam mensukseskan
pembangunan nasional untuk mewujudkan kedamaian, kemajuan, kemakmuran dan
kesejahteraan lahir batin bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya.
Terkait hal
tersebut Menteri Marwan mengatakan, salah satu dimensi pembangunan nasional
yang harus disukseskan saat ini ada pada pembangunan desa-desa. Ia mengajak
warga Nahdlatul Ulama dan pondok pesantren, untuk turut membantu mewujudkan
nawacita ke tiga Presiden Joko Widodo yakni membangun Indonesia dari pinggiran.
“Bagi kita warga NU
dan pondok pesantren, Pembangunan Desa memiliki makna yang cukup istimewa
karena Desa adalah tempat tinggal bagi sebagian besar warga NU dan pondok
pesantren, ber-ma’isyah sebagai petani, nelayan, pedagang sambil menjadi kyai,
muballigh atau guru ngaji di masjid atau musholla kampung,” ujarnya.
Menurutnya, dengan
partisipasi aktif dalam membangun desa, maka peluang warga NU dan
pondok pesantren untuk meraih kemajuan dan meningkatkan kesejahteraan akan
dapat terwujud dengan baik.
“Komitmen Presiden
Jokowi terhadap kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Desa, yang diwujudkan
melalui Dana Desa yang terus dinaikkan jumlahnya setiap tahun. Jika pada tahun
2015 lalu Dana Desa berjumlah Rp 20,7 trilIun maka tahun 2016 ini Dana Desa
naik duakali lipat lebih menjadi Rp 46,98 tiliun. Ditambah Alokasi Dana Desa
(ADD) dari Pemerintah Daerah, maka tahun ini rata-rata setiap desa akan
mengelola dana tidak kurang dari Rp 1 Milyar,” ujarnya.
Menteri Marwan
mengatakan, Dengan jumlah Dana Desa yang semakin besar tersebut,
diharapkan dapat memberikan dampak dan manfaat yang nyata bagi kesejahteraan
masyarakat secara keseluruhan, terutama desa.
“Kita harapkan
makin banyak jalan desa, embung, irigasi, jalan usaha tani, atau usaha
masyarakat desa yang bisa dibiayai dari dana desa, sehingga Desa akan lebih
cepat maju dan masyarakat makin banyak yang sejahtera,” ujarnya.
Oleh sebab itu,
Menteri Marwan mengajak warga NU dan Pondok Pesantren untuk turut mengawasi
dana desa di desanya masing-masing. Jika terindikasi terdapat penyimpangan,
agar dapat dicatat dan segera dilaporkan kepada pihak yang terkait.
“Semua harus
mengetahui berapa besar Dana Desa yang dikelola Desa nya, untuk apa saja
penggunaannya, bagaimana pelaksanaannya, danbagaimana laporannya. Jika warga NU
dan pondok pesantren bersama seluruh elemen masyarakat desa lainnya bisa
berperan aktif seperti ini, maka saya haqqul yaqin Dana Desa dalam waktu
singkat akansangat terasa manfaatnya,” ujarnya.


